Indusrti budaya
adalah institusi-institusi dalam masyarakat yang mengelola moda khusus produk
dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam
bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komodikasi (Garnham, 1997).
Sedangkan menurut Fiske industri budaya memproduksi repetoir barang-barang atau jasa dengan harapan menarik publik dan
menyertakan publik sebagai konsumen komoditas tersebut (Storey, 2007: 32).
Para teoritisi kritis seperti
Douglas Kellner dan Lewis mengkritik keras kepada apa yang mereka sebut sebagai
industri budaya. Menurut mereka industri budaya adalah struktur-struktur yang
dirasionalkan, dibirokrasikan, yang kemudian mengendalikan kebudayaan moderen.
Industri budaya menghasilkan apa yang disebut sebagai kebudayaan masa yang didefinisikan sebagai kebudayaan palsu yang diberhalakan, yang tidak spontan ketimbang
hal yang nyata (jay,1973)
Ada berbagai macam alat dari
industri budaya yang kemudian mereka birokrasikan, semisal hiburan (televisi,
musik, olahraga dll) pendidikan, dan lain sebagainya. Namun didalam bahasan
kali ini saya akan memfokuskan pada televisi sebagai pengendali kebudayaan
moderen yang paling kuat, karena fenomena hari ini adalah televisi menjadi
pusat nomer satu dalam penyampaian informasi apa pun.
Hari ini sebagian produk yang
dihasilkan oleh televisi adalah sekumpulan ide yang sudah terpaket dan
dihasilkan secara masal lalu disampaikan kepada masa. Bila kita melihat
televisi hari ini, kita akan melihat sebuah gagasan yang kuat tentang mode
sebuah kebudayaan moderen. Di dalamnya tersampaikan bahwa hari ini budaya
adalah seperti apa yang mereka sampaikan, sehingga masa akan terkontruksikan
sama seperti yang disampaikan melalui media televisi tersebut, semisal gaya
hidup para pemuda, dari mode rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan pikiran
sekali pun. Yang kemudian gaya hidup yang disampaikan oleh televisi tersebut
adalah gaya hidup yang dibuat oleh kelompok kapitalisme transnasional fraksi
konsumeris, dimana produk produk yang mereka buat disampaikan atau disalurkan
melalui acara-acara yang diproduksi oleh media televisi.
Produk-produk yang dikemas dengan
sangat rapi dan sangat menarik ini membuat masyarakat semakin terlena,
masyarakat semakin masuk kedalam alam bawah sadarnya. Muatan-muatan yang
disampaikan oleh televisi sebenarnya sangat menindas dan membingungkan
masyarakat, dimana masyarakat akan selalu disuguhi oleh nilai-nilai yang selalu
berubah, sehingga masyarakat akan terus dan terus mengikuti nilai-nilai
tersebut, dan nilai tersebut terus berpola, sehingga tidak akan pernah mencapai
titik jenuh, dan bahkan akan selalu naik. Bentuk seperti inilah yang saya
maksut sebagai penindasan yang dilakukan oleh media televisi, karena masyarakat
terus dipaksa untuk mengikuti apa yang mereka sampaikan, dan tanpa masyarakat
sadari mereka terkontruksikan bahwa apa yang disampaikan televisi adalah
sesuatu yang harus diikuti, dan bila tidak mengikuti maka akan muncul hukuman
berupa stigma bahwa seseorang yang tidak mengikuti mode tersebut berarti tergolong orang yang
kuno, kuper, dan lain sebagainya.
Contoh sederhana tentang nilai-nilai
negativ yang disampaikan oleh media televisi adalah sinetron-sinetron remaja,
yang dimana mereka membuat tema tentang kehidupan para pelajar SMA. Namun
faktanya nilai-nilai yang disampaikan bukanlah apa adanya atau kewajiban
seperti apa para pelajar remaja tersebut, melainkan nilai-nilai gaya hidup
moderen. Mereka tidak menyampaikan nilai-nilai pendidikan, tapi mereka menyampaikan
bahwa anak muda adalah golongan atau kelompok dalam masyarakat yang harus
bersenang-senang dalam kehidupannya. Tanpa masyarakat sadari (utamanya para
remaja), mereka akan terkontruksi bahwa seorang remaja memang seharusnya
bersenang-senang dan tidak terlalu menghiraukan masalah pendidikan, dan
menjadikan pendidikan hanya sebatas formalitas belaka.
Douglas Kellner berpendapat bahwa
dalam membahas tentang industri budaya, maka harus melakukan analisa yang rinci
atas ekonomi politis dan media, dan tidak sebatas mengkonsepsikan kebudayaan
masa hanya sebagai alat idelogi kapitalis (Kellner, 1990: 14). Oleh karena itu,
selain melihat televisi sebagai bagian dari industri kebudayaan, tentunya
berkaitan baik dengan kapitalisme korporasi maupun dengan sistem politis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar