Senin, 24 Februari 2014

INDUSTRI BUDAYA; TELEVISI; BUDAYA PALSU


Indusrti budaya adalah institusi-institusi dalam masyarakat yang mengelola moda khusus produk dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komodikasi (Garnham, 1997). Sedangkan menurut Fiske industri budaya memproduksi repetoir barang-barang atau jasa dengan harapan menarik publik dan menyertakan publik sebagai konsumen komoditas tersebut (Storey, 2007: 32).
            Para teoritisi kritis seperti Douglas Kellner dan Lewis mengkritik keras kepada apa yang mereka sebut sebagai industri budaya. Menurut mereka industri budaya adalah struktur-struktur yang dirasionalkan, dibirokrasikan, yang kemudian mengendalikan kebudayaan moderen. Industri budaya menghasilkan apa yang disebut sebagai kebudayaan masa yang didefinisikan sebagai kebudayaan palsu yang diberhalakan, yang tidak spontan ketimbang hal yang nyata (jay,1973)
            Ada berbagai macam alat dari industri budaya yang kemudian mereka birokrasikan, semisal hiburan (televisi, musik, olahraga dll) pendidikan, dan lain sebagainya. Namun didalam bahasan kali ini saya akan memfokuskan pada televisi sebagai pengendali kebudayaan moderen yang paling kuat, karena fenomena hari ini adalah televisi menjadi pusat nomer satu dalam penyampaian informasi apa pun.
            Hari ini sebagian produk yang dihasilkan oleh televisi adalah sekumpulan ide yang sudah terpaket dan dihasilkan secara masal lalu disampaikan kepada masa. Bila kita melihat televisi hari ini, kita akan melihat sebuah gagasan yang kuat tentang mode sebuah kebudayaan moderen. Di dalamnya tersampaikan bahwa hari ini budaya adalah seperti apa yang mereka sampaikan, sehingga masa akan terkontruksikan sama seperti yang disampaikan melalui media televisi tersebut, semisal gaya hidup para pemuda, dari mode rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan pikiran sekali pun. Yang kemudian gaya hidup yang disampaikan oleh televisi tersebut adalah gaya hidup yang dibuat oleh kelompok kapitalisme transnasional fraksi konsumeris, dimana produk produk yang mereka buat disampaikan atau disalurkan melalui acara-acara yang diproduksi oleh media televisi.
            Produk-produk yang dikemas dengan sangat rapi dan sangat menarik ini membuat masyarakat semakin terlena, masyarakat semakin masuk kedalam alam bawah sadarnya. Muatan-muatan yang disampaikan oleh televisi sebenarnya sangat menindas dan membingungkan masyarakat, dimana masyarakat akan selalu disuguhi oleh nilai-nilai yang selalu berubah, sehingga masyarakat akan terus dan terus mengikuti nilai-nilai tersebut, dan nilai tersebut terus berpola, sehingga tidak akan pernah mencapai titik jenuh, dan bahkan akan selalu naik. Bentuk seperti inilah yang saya maksut sebagai penindasan yang dilakukan oleh media televisi, karena masyarakat terus dipaksa untuk mengikuti apa yang mereka sampaikan, dan tanpa masyarakat sadari mereka terkontruksikan bahwa apa yang disampaikan televisi adalah sesuatu yang harus diikuti, dan bila tidak mengikuti maka akan muncul hukuman berupa stigma bahwa seseorang yang tidak mengikuti  mode tersebut berarti tergolong orang yang kuno, kuper, dan lain sebagainya.
            Contoh sederhana tentang nilai-nilai negativ yang disampaikan oleh media televisi adalah sinetron-sinetron remaja, yang dimana mereka membuat tema tentang kehidupan para pelajar SMA. Namun faktanya nilai-nilai yang disampaikan bukanlah apa adanya atau kewajiban seperti apa para pelajar remaja tersebut, melainkan nilai-nilai gaya hidup moderen. Mereka tidak menyampaikan nilai-nilai pendidikan, tapi mereka menyampaikan bahwa anak muda adalah golongan atau kelompok dalam masyarakat yang harus bersenang-senang dalam kehidupannya. Tanpa masyarakat sadari (utamanya para remaja), mereka akan terkontruksi bahwa seorang remaja memang seharusnya bersenang-senang dan tidak terlalu menghiraukan masalah pendidikan, dan menjadikan pendidikan hanya sebatas formalitas belaka.
            Douglas Kellner berpendapat bahwa dalam membahas tentang industri budaya, maka harus melakukan analisa yang rinci atas ekonomi politis dan media, dan tidak sebatas mengkonsepsikan kebudayaan masa hanya sebagai alat idelogi kapitalis (Kellner, 1990: 14). Oleh karena itu, selain melihat televisi sebagai bagian dari industri kebudayaan, tentunya berkaitan baik dengan kapitalisme korporasi maupun dengan sistem politis.


Meteor Rosada Amang Sanjaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar