Minggu, 16 Maret 2014

Bunuh Diri Anomie Masyarakat Kontemporer : Studi Kasus di Bali

Bunuh Diri Anomie Masyarakat Kontemporer : Studi Kasus di Bali

Masyarakat Bali mengalami pergeseran nilai dan norma sosiokultural. Pergeseran sosiokultural mengakibatkan tatanan dan pranata sosial yang menjadi kolektivitas masyarakat Bali mengalami keguncangan. Pengamatan masyarakat awam mengenai kasus bunuh diri akan selalu diarahkan pada tindakan yang mengarah pada kelemahan jiwa dan tekanan psikologis. Masyarakat Bali yang dahulunya memegang nilai dan norma yang masih konservatif telah bergesar dengan adanya modernisasi dan westernisasi dalam berbagai macam aspek kehidupan sosial. Identitas masyarakat modern melekat dengan kesan individualitas, hedonisme, liberalisme, dan kapitalisme. Dengan semakin terbukanya informasi dan teknologi yang mudah diakses mengkaburkan nilai sosiokultural yang telah terbangun. Akal atau pun pemikiran yang telah terkonstruksi dengan nilai dan norma sosiokultural seharusnya mampu mengendalikan rasionaliats normatif dalam berperilaku sosial tidak dapat berjalan secara baik. Bunuh diri menjadi semakin mungkin terjadi dikarenakan kekacauan yang negatif dalam ruang lingkup ekonomi.
Bunuh diri (Suicide) merupakan salah satu karya  besar tokoh sosiologi Prancis Emile Durkheim yang besar di zamannya. Durkheim menjelaskan hanya fakta sosial yang mempengaruhi kuantitas bunuh diri pada beberapa kasus di lokasi yang berbeda.  Pada kasus bunuh diri anomie pengaruh ekonomi menjadi faktor yang berpengaruh besar. Angka bunuh diri anomie lebih mungkin muncul dikarenakan sifat kekacauan yang positif (misalnya ledakan ekonomi) atau karena sifatnya yang negatif (depresi ekonomi). Kekacauan ini mengakibatkan seseorang berada pada nilai dan norma lama tidak berlaku lagi tetapi nilai dan norma baru belum berkembang. Bentuk norma sosiokultural non material yang menjadi kontrol masyarakat mengalami kegoyahan ditambah lagi dengan derajat ekonomi yang sifatnya negatif.  Semangat masyarakat yang kolektivisme bergeser ke  arah individualisme.
Krisis ekonomi nampaknya semakin banyak menimpa orang Bali. Hal ini berhubugan dengan modernisasi dan westernisasi yang terjadi pada masyarakat. Kebutuhan akan materi dan gaya hidup hedonisme semakin memunculkan konstruksi masyarakat untuk hidup mewah dan individual. Hubungan sosial masyarakat Bali yang kekerabatan menjadi lebih egois dan berkomunikasi hanya seperlunya. Tradisi dan ritual yang meningkatkan solidaritas menjadi semakin berkurang seperti tegur sapa dan berkunjung ke rumah tetangga tidak lagi dilakukan. Semuanya mengacu kepada gaya hidup masyarakat yang mementingakan kepentingan pribadi dengan menghilangkan asas koletiktifitas yang menjadi tradisi di dalam masyarakat.  Budaya-budaya seperti ngorte atau ngobrol yang menurut tradisi Bali adalah obat jiwa tidak lagi dilakukan.  Tradisi ngorte seharusnya dapat mengurangi tekanan sosial dan dapat memberikan solusi atas permasalahan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Keadaan anomie masyarakat sedikit banyak berpengaruh terhadap pola perilaku masyarakat yang normatif. Kontrol nilai dan norma sosiokultural yang menjadi kesadaran kolektif dalam berkehidupan masyarakat digantikan dengan nilai dan norma sosiokultural yang belum berkembang, keadaan anomie nilai dan norma sosiokultural menjadi salah satu faktor masyarakat Bali melakukan bunuh diri pada beberapa kasus dengan kasus yang berbeda. Bunuh diri menjadi bentuk ancaman yang serius disamping dengan bentuk kematian yang disebabkan tindakan kekerasan dan terorisme pada masyarakat Bali.

Salam RETORIKA!!!


ABDUL BUKHORI MUSLIM

Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa Prof., Dr. 2010. Ajeg  Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi. Yogyakarta:LKiS 

DRAMATURGI PEMILU 2014

DRAMATURGI PEMILU 2014

Dramaturgi, pandangan sebuah konsep mengenai kehidupan sosial sehari-hari sebagai sebuah sandiwara dramatik yang ditampilkan di atas panggung. Adalah Erving Goffman yang merupakan seorang tokoh sosiologi interaksionalisme simbolik yang melahirkan pemikiran ini. Dalam menyikapi fenomena sehari-hari, konsep dramaturgi masih relevan sebagai dasar untuk menganalisa konsep diri dalam kehidupan sehari-hari.
Menengok sejenak fenomena yang saat ini sedang berlangsung, pesta demokrasi yang dikemas dalam agenda politik yaitu Pemilu yang akan dilaksanakan 9 April 2014. Layaknya sebuah pentas pertunjukan yang akan disajikan oleh para pelaku politik kepada masyarakat, agenda pemilu menjadi sebuah pertunjukan yang diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam proses ini.
Analogi pemilu dengan konsep dramaturgi adalah suatu hal yang menjadi menarik untuk dipresentasikan. Pemilu 2014 merupakan sebuah drama kehidupan yang diperankan oleh peserta pemilu sebagai aktor sosial dan masyarakat politik sebagai audiens sosial. Menjadi tugas seorang aktor untuk dapat menampilkan dirinya sebaik mungkin melalui proses interaksi yang berlangsung kepada audiensnya. Sandiwara ini akan dapat berhasil apabila masyarakat  politik menerima dengan baik hasil presentasi peserta pemilu.
Dramaturgi terbagi ke dalam front stage (bagian depan) dan back stage (panggung belakang). Bagian depan merupakan bagian dari sandiwara yang secara umum berfungsi untuk medefinisikan situasi bagi orang-orang yang mengamati sandiwara itu. Proses pemilu seperti kampanye merupakan front stage dramaturgi. Jauh lebih lanjut font stage terbagi menjadi setting front (depan latar) dan personal (depan pribadi). Latar pemilu merupakan situasi fisik dimana proses kampanye sedang berlangsung yang manampilkan kapasitas dan kapabilitas peserta pemilu. Bagian depan pribadi meliputi penampilan dan sikap peserta pemilu. Peserta pemilu tentunya akan berusaha membuat masyarakat takjub melihat drama politik yang sedang berlangsung, menampilkan karakter seorang politikus yang handal dengan mengumbar janji dan berbagai macam harapan.
 Panggung belakang merupakan tempat dimana fakta-fakta yang ditindas dan tidak ditampilkan di bagian depan. Panggung belakang merupakan tempat perilaku-perilaku yang terahasiakan oleh peserta pemilu dihadapan masyarakat. Suatu panggung belakang akan dapat merusak penampilan peserta pemilu apabila masyarakat mengetahui fakta-fakta atau pun jejak rekam hitam peserta pemilu. Untuk dapat meyakinkan masyarakat, panggung belakang adalah tempat dimana peserta pemilu memanajemen segala macam hal yang berkaitan dengan proses pemenangan pemilu. Sebuah strategi politik yang telah tertata dengan rapi.
Setelah semua dramaturgi pemilu telah usai, hasil pertunjukan dikembalikan pada  masyarakat sebagai audiens. Suatu derajat drama pemilu dapat berjalan dengan baik apabila masyarakat turut serta peran aktif dalam proses pemilu . Tentu saja sebagai masyarakat politik, berhak memberikan pujian maupun kritik sosial kepada peserta pemilu. Perlu disadari pemilu adalah sarana politik untuk mewujudkan kehendak rakyat kepada negara dalam sistem demokrasi.

Salam RETORIKA!!!

ABDUL BUKHORI MUSLIM

Jumat, 14 Maret 2014

Pemira HIMA Sosiologi periode 2014/2015

Selamat kepada saudari Nellyana Dewi larasati yang telah resmi menjadi KAHIMA sosiologi periode 2014/2015 dengan hasil akhir : dari total suara 376, Ogi Jodi mendapat 55 suara, Nelly Dewi L 195 suara. abtsein 22 dan tidak sah 5 suara

Kamis, 13 Maret 2014

Bunga Wijaya Kusuma


Pagi datang dengan cepat. Serpihan-serpihan kisah semalam yang lalu begitu cepat dan begitu indah. Ah, tempat tidur ini menghambatku, semakin meracuni otak untuk semakin bergairah bersama pagi dan kisah semalam. Kau begitu cantik dengan tubuh kecilmu.
Satunya hal yang tak menarik adalah apa yang datang begitu cepat, pergi pula dengan begitu cepat. Mengingatkan puisi Rite Of Spring dari Goenawan Mohamad. Kau berlalu bersama angin. Menjadi satu dengan tetes gerimis hujan. Saya mengagumimu. Jam yang bicara, menunjukan sudah siang, waktu untuk beranjak pergi dari tempat tidur dan memaksa untuk realistis.
“Pagi ini terbuat dari apa ?” kenapa begitu bulat dan dingin. Sama sepertimu, begitu bulat dan dingin sekarang. “Apa yang terjadi denganmu ?”.
Wijaya Kusuma, mekar di saat tengah malam dan hanya untuk beberapa saat, namun keesokan paginya layu kembali. Bunga yang menurut legenda bisa menyembuhkan segala macam penyakit, menjadikan abadi dan menghidupkan orang mati. Bunga ini adalah bunga dewa. Asal muasal bunga ajaib itu dari benang sari bunga Wijaya Kusuma milik dewa Wisnu di kayangan, yang jatuh dan tumbuh di dunia.
Berdasarkan legenda yang muncul di masyarakat, pada suatu ketika, ada seorang raja dari tanah Jawa yang bermimpi menemukan bunga Wijaya Kusuma tumbuh di sebuah pulau Karang Badong di laut selatan.
“Aku bermimpi! Aku tak bisa mati !” teriak raja dalam tidurnya.
“Ada apa, Kanda? Siapa yang tak bisa mati?” tanya permaisuri yang terbangun karena teriakan suaminya.
“Ah, Dinda. Kita akan hidup selamanya. Aku tahu di mana tempat Kembang Wijaya Kusuma berada,” jawab baginda yang kemudian menceritakan perihal mimpinya.
Singkat cerita, raja mengutus beberapa prajuritnya untuk memetik bunga tersebut, meski sebenarnya hal tersebut melanggar pantangan yang dipernah disampaikan oleh tetua kerajaan.
Ketika prajurit sampai di pantai laut selatan, para prajurit menciut nyalinya. Bagaimana tidak ? Gelombang air laut itu setinggi bukit. Jangankan kapal, bukit pun pasti hancur ditelan gelombang itu.
Disaat ketakutan para prajurit begitu memuncak, ternyata ada seorang nelayan yang melamun di tepi pantai. Salah satu prajurit tersebut mendatangi nelayan itu.
“Kenapa kau melamun nelayan ? apa yang kau lamunkan”. Tanya prajurit.
“Maaf baginda, hamba hanya melamuni nasib hamba yang begitu susah, hamba tidak memiliki apa pun untuk hidup, hamba adalah nelayan yang kehilangan kapal”. Jawab nelayan tersebut.
Prajurit tersebut diam sejenak.
“Aku akan merubah nasibmu, tidak hanya kapal, kami akan memberimu lebih banyak”. Kata prajurit.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” Nelayan itu bertanya.
“Ambilkan kami bunga Wijaya Kusuma”. Perintah prajurit kepada nelayan tersebut.
“Oh bunga Wijaya Kusuma yang tumbuh di pulau Karang Badong itu kah ?”. Jawab nelayan itu. Meskipun dalam batin nelayan itu ketakutan, namun karena keinginan untuk hidup yang lebih baik begitu besar, nelayan tersebut memberanikan dirinya.
Ketika sampai di pulau, nelayan tersebut segera bergegegas ke puncak tebing pulau Karang Badong. Punga itu tepat di atas tebing. Disaat hendak memetiknya, muncul sosok-sosok seram di sekitar bunga tersebut, mereka adalah siluman yang juga hendak memetik bunga ajaib itu untuk menambah kesaktian dan keabadian.
Tanpa berfikir lama, nelayan tersebut langsung memetik bunga Wijaya Kusuma dan berlari menuju perahunya. Ketika sampai di pantai, nelayan itu mendapati perahunya telah hancur diterjang ombak. Nelayan itu begitu ketakutan. Ketika dilihatnya siluman yang mengejarnya semakin dekat, nelayan itu berdo’a kepada sang dewa.
“Dewa tolonglah hambamu ini”. Teriak nelayan tersebut, dan dia langsung melompat ke dalam laut. Dengan ombak yang begitu besar, nelayan tersebut berjuang sekuat tenaga untuk meraih serpihan kayu bekas perahunya. Dengan kegigihan yang kuat, nelayan tersebut berhasil meraih kayu tersebut.
Dengan dibantu ombak, nelayan tersebut sampai di pantai. Keadaannya sungguh tidak baik. Dia tidak sadarkan diri. Melihat keadaan tersebut, prajurit melihat nelayan itu memegang bunga Wijaya Kusuma. Namun prajurit tersebut tidak memenuhi janjinya. Mereka hanya mengambil bunga itu dan meninggalkan nelayan tersebut seorang diri dengan keadaan kritis.
Ketika bunga Wijaya Kusuma sudah ditangan raja, ternyata bukan keabadian yang dia terima, malah keburukan menimpa kerajaan tersebut. Para prajurit yang diperintahkan untuk memetik bunga tersebut mati satu persatu secara misterius. Dan sang raja menjadi gila lalu hilang. Namun bunga tersebut hilang, dan kembali kepada dewa Wisnu.

Kisah itu begitu tragis. Betapa indahnya, dan betapa misterinya bung Wijaya Kusuma. Sama denganmu yang begitu menawan, mempesona, tapi begitu gelap untuk dilihat dengan perasaan pasrah dan diam. Wijaya Kusuma. Bunga Indah satu malam dengan misteri tuhan di tanganmu.

Meteor Rosada Amang Sanjaya