Selasa, 26 Agustus 2014

SEJARAH ???


“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? apakah kesedihan, tanpa penghianatan, sejarah tidak akan lahir?” - Soe Hok Gie.
Sejarah menurut kamus bahasa Indonesia adalah kejadian yang terjadi di masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Ditambahkan oleh Sartono Kartodirjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang terjadi pada masa lampau.    Yang secara teoritik menunjukan tindakan untuk membuka tabir atau mengarsipkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, baik satu detik, satu jam, satu hari, satu tahun, bahkan jutaan tahun yang lalu.
Satu hal yang kemudian harus kita pertanyakan dalam statemen tersebut. Benarkah ?
Bukankah kita melihat saat ini, berbagai fenomena yang saya rasa memaksa kita untuk menggelengkan kepala, menutup mata, atau berkata bangsat.
Kita disuguhkan berbagai kenangan yang indah nan cantik mengenai sejarah bangsa ini, atau kisah heroik para pahlawan yang dengan gigihnya memperjuangkan kemerdekaan. Itu adalah kebenaran, kita semua tahu itu. Tapi kembali lagi ke pertanyaan saya yang saya lontarkan di atas tadi, Benarkah ?. Pertanyaan saya yang sebenarnya meragukan mengenai kejujuran para sejarawan dalam membuka atau mengatakan sejarah di negara ini.
Beranikan para sejarawan membuka kepada masyarakat luas mengenai para penganut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibantai oleh entah siapa. Yang kita dapatkan dari para sejarawan hanyalah bahwa para penganut PKI adalah salah, tak bertuhan, penghianat, dll. Yang tidak kita lihat adalah bahwa mereka adalah bagian dari kita, mereka adalah ayah, ibu, tetangga, atau teman kita, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Tidak pernah tercatat oleh sejarah kita berapa jumlah saudara kita yang menjadi korban kejadian tersebut. Sebuah film dokumenter yang berjudul “Shadow Play” mengemukakan bahwa ada ratusan ribu warga Indonesia yang dibantai lalu jasadnya dibuang diberbagai tempat. Bukankah itu keji ? dimana keluarga atau orang terdekatnya tidak ada yang tahu dimana mereka berada, bila masih hidup, mereka dimana ? jika mereka sudah mati, dimana jasadnya ? tentu saja kejadian ini jauh lebih melankoli ketimbang film “12 years a slave” hasil karya sutradara sekaligus produser Steve McQueen.
Saya rasa bukanlah mengenai tekanan yang membatasi ilmu mereka, namun karena mereka sendiri yang tidak memiliki etika untuk berbicara jujur mengenai kenangan. Tapi apa yang mereka lakukan setidaknya sudah memberikan kita semua gambaran, bahwa sejarah hanyalah alat, media, atau senjata untuk memanipulasi kita masyarakat luas, yang mengakibatkan konstruksi negatif bagi masyarakat. Seperti dalam kejadian di paragraf atas, kita bisa melihat di dalam masyarakat saat ini, bahwa stigma yang muncul akibat manipulasi para sejarawan terhadap sejarah telah menjadikan paham komunis adalah paham mengenai iblis. Saya tidak membela atau berideologi komunis, saya hanya tidak ingin masyarakat melihat sesuatu yang tidak berdasarkan bukti lengkap.

Meteor Rosada Amang Sanjaya