“Sejarah dunia adalah sejarah
pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? apakah kesedihan, tanpa
penghianatan, sejarah tidak akan lahir?” - Soe Hok Gie.
Sejarah
menurut kamus bahasa Indonesia adalah kejadian yang terjadi di masa lampau yang
disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Ditambahkan oleh
Sartono Kartodirjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang
terjadi pada masa lampau. Yang secara
teoritik menunjukan tindakan untuk membuka tabir atau mengarsipkan
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, baik satu detik, satu jam, satu hari,
satu tahun, bahkan jutaan tahun yang lalu.
Satu
hal yang kemudian harus kita pertanyakan dalam statemen tersebut. Benarkah ?
Bukankah
kita melihat saat ini, berbagai fenomena yang saya rasa memaksa kita untuk
menggelengkan kepala, menutup mata, atau berkata bangsat.
Kita
disuguhkan berbagai kenangan yang indah nan cantik mengenai sejarah bangsa ini,
atau kisah heroik para pahlawan yang dengan gigihnya memperjuangkan
kemerdekaan. Itu adalah kebenaran, kita semua tahu itu. Tapi kembali lagi ke
pertanyaan saya yang saya lontarkan di atas tadi, Benarkah ?. Pertanyaan saya yang sebenarnya meragukan mengenai
kejujuran para sejarawan dalam membuka atau mengatakan sejarah di negara ini.
Beranikan
para sejarawan membuka kepada masyarakat luas mengenai para penganut Partai
Komunis Indonesia (PKI) yang dibantai oleh entah siapa. Yang kita dapatkan dari
para sejarawan hanyalah bahwa para penganut PKI adalah salah, tak bertuhan,
penghianat, dll. Yang tidak kita lihat adalah bahwa mereka adalah bagian dari
kita, mereka adalah ayah, ibu, tetangga, atau teman kita, sebagai bagian dari
masyarakat Indonesia.
Tidak
pernah tercatat oleh sejarah kita berapa jumlah saudara kita yang menjadi
korban kejadian tersebut. Sebuah film dokumenter yang berjudul “Shadow Play”
mengemukakan bahwa ada ratusan ribu warga Indonesia yang dibantai lalu jasadnya
dibuang diberbagai tempat. Bukankah itu keji ? dimana keluarga atau orang
terdekatnya tidak ada yang tahu dimana mereka berada, bila masih hidup, mereka
dimana ? jika mereka sudah mati, dimana jasadnya ? tentu saja kejadian ini jauh
lebih melankoli ketimbang film “12 years a slave” hasil karya sutradara
sekaligus produser Steve McQueen.
Saya
rasa bukanlah mengenai tekanan yang membatasi ilmu mereka, namun karena mereka
sendiri yang tidak memiliki etika untuk berbicara jujur mengenai kenangan. Tapi
apa yang mereka lakukan setidaknya sudah memberikan kita semua gambaran, bahwa
sejarah hanyalah alat, media, atau senjata untuk memanipulasi kita masyarakat
luas, yang mengakibatkan konstruksi negatif bagi masyarakat. Seperti dalam
kejadian di paragraf atas, kita bisa melihat di dalam masyarakat saat ini,
bahwa stigma yang muncul akibat manipulasi para sejarawan terhadap sejarah
telah menjadikan paham komunis adalah paham mengenai iblis. Saya tidak membela
atau berideologi komunis, saya hanya tidak ingin masyarakat melihat sesuatu
yang tidak berdasarkan bukti lengkap.
Meteor Rosada Amang Sanjaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar