Kamis, 13 Maret 2014

Bunga Wijaya Kusuma


Pagi datang dengan cepat. Serpihan-serpihan kisah semalam yang lalu begitu cepat dan begitu indah. Ah, tempat tidur ini menghambatku, semakin meracuni otak untuk semakin bergairah bersama pagi dan kisah semalam. Kau begitu cantik dengan tubuh kecilmu.
Satunya hal yang tak menarik adalah apa yang datang begitu cepat, pergi pula dengan begitu cepat. Mengingatkan puisi Rite Of Spring dari Goenawan Mohamad. Kau berlalu bersama angin. Menjadi satu dengan tetes gerimis hujan. Saya mengagumimu. Jam yang bicara, menunjukan sudah siang, waktu untuk beranjak pergi dari tempat tidur dan memaksa untuk realistis.
“Pagi ini terbuat dari apa ?” kenapa begitu bulat dan dingin. Sama sepertimu, begitu bulat dan dingin sekarang. “Apa yang terjadi denganmu ?”.
Wijaya Kusuma, mekar di saat tengah malam dan hanya untuk beberapa saat, namun keesokan paginya layu kembali. Bunga yang menurut legenda bisa menyembuhkan segala macam penyakit, menjadikan abadi dan menghidupkan orang mati. Bunga ini adalah bunga dewa. Asal muasal bunga ajaib itu dari benang sari bunga Wijaya Kusuma milik dewa Wisnu di kayangan, yang jatuh dan tumbuh di dunia.
Berdasarkan legenda yang muncul di masyarakat, pada suatu ketika, ada seorang raja dari tanah Jawa yang bermimpi menemukan bunga Wijaya Kusuma tumbuh di sebuah pulau Karang Badong di laut selatan.
“Aku bermimpi! Aku tak bisa mati !” teriak raja dalam tidurnya.
“Ada apa, Kanda? Siapa yang tak bisa mati?” tanya permaisuri yang terbangun karena teriakan suaminya.
“Ah, Dinda. Kita akan hidup selamanya. Aku tahu di mana tempat Kembang Wijaya Kusuma berada,” jawab baginda yang kemudian menceritakan perihal mimpinya.
Singkat cerita, raja mengutus beberapa prajuritnya untuk memetik bunga tersebut, meski sebenarnya hal tersebut melanggar pantangan yang dipernah disampaikan oleh tetua kerajaan.
Ketika prajurit sampai di pantai laut selatan, para prajurit menciut nyalinya. Bagaimana tidak ? Gelombang air laut itu setinggi bukit. Jangankan kapal, bukit pun pasti hancur ditelan gelombang itu.
Disaat ketakutan para prajurit begitu memuncak, ternyata ada seorang nelayan yang melamun di tepi pantai. Salah satu prajurit tersebut mendatangi nelayan itu.
“Kenapa kau melamun nelayan ? apa yang kau lamunkan”. Tanya prajurit.
“Maaf baginda, hamba hanya melamuni nasib hamba yang begitu susah, hamba tidak memiliki apa pun untuk hidup, hamba adalah nelayan yang kehilangan kapal”. Jawab nelayan tersebut.
Prajurit tersebut diam sejenak.
“Aku akan merubah nasibmu, tidak hanya kapal, kami akan memberimu lebih banyak”. Kata prajurit.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” Nelayan itu bertanya.
“Ambilkan kami bunga Wijaya Kusuma”. Perintah prajurit kepada nelayan tersebut.
“Oh bunga Wijaya Kusuma yang tumbuh di pulau Karang Badong itu kah ?”. Jawab nelayan itu. Meskipun dalam batin nelayan itu ketakutan, namun karena keinginan untuk hidup yang lebih baik begitu besar, nelayan tersebut memberanikan dirinya.
Ketika sampai di pulau, nelayan tersebut segera bergegegas ke puncak tebing pulau Karang Badong. Punga itu tepat di atas tebing. Disaat hendak memetiknya, muncul sosok-sosok seram di sekitar bunga tersebut, mereka adalah siluman yang juga hendak memetik bunga ajaib itu untuk menambah kesaktian dan keabadian.
Tanpa berfikir lama, nelayan tersebut langsung memetik bunga Wijaya Kusuma dan berlari menuju perahunya. Ketika sampai di pantai, nelayan itu mendapati perahunya telah hancur diterjang ombak. Nelayan itu begitu ketakutan. Ketika dilihatnya siluman yang mengejarnya semakin dekat, nelayan itu berdo’a kepada sang dewa.
“Dewa tolonglah hambamu ini”. Teriak nelayan tersebut, dan dia langsung melompat ke dalam laut. Dengan ombak yang begitu besar, nelayan tersebut berjuang sekuat tenaga untuk meraih serpihan kayu bekas perahunya. Dengan kegigihan yang kuat, nelayan tersebut berhasil meraih kayu tersebut.
Dengan dibantu ombak, nelayan tersebut sampai di pantai. Keadaannya sungguh tidak baik. Dia tidak sadarkan diri. Melihat keadaan tersebut, prajurit melihat nelayan itu memegang bunga Wijaya Kusuma. Namun prajurit tersebut tidak memenuhi janjinya. Mereka hanya mengambil bunga itu dan meninggalkan nelayan tersebut seorang diri dengan keadaan kritis.
Ketika bunga Wijaya Kusuma sudah ditangan raja, ternyata bukan keabadian yang dia terima, malah keburukan menimpa kerajaan tersebut. Para prajurit yang diperintahkan untuk memetik bunga tersebut mati satu persatu secara misterius. Dan sang raja menjadi gila lalu hilang. Namun bunga tersebut hilang, dan kembali kepada dewa Wisnu.

Kisah itu begitu tragis. Betapa indahnya, dan betapa misterinya bung Wijaya Kusuma. Sama denganmu yang begitu menawan, mempesona, tapi begitu gelap untuk dilihat dengan perasaan pasrah dan diam. Wijaya Kusuma. Bunga Indah satu malam dengan misteri tuhan di tanganmu.

Meteor Rosada Amang Sanjaya

Senin, 24 Februari 2014

INDUSTRI BUDAYA; TELEVISI; BUDAYA PALSU


Indusrti budaya adalah institusi-institusi dalam masyarakat yang mengelola moda khusus produk dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komodikasi (Garnham, 1997). Sedangkan menurut Fiske industri budaya memproduksi repetoir barang-barang atau jasa dengan harapan menarik publik dan menyertakan publik sebagai konsumen komoditas tersebut (Storey, 2007: 32).
            Para teoritisi kritis seperti Douglas Kellner dan Lewis mengkritik keras kepada apa yang mereka sebut sebagai industri budaya. Menurut mereka industri budaya adalah struktur-struktur yang dirasionalkan, dibirokrasikan, yang kemudian mengendalikan kebudayaan moderen. Industri budaya menghasilkan apa yang disebut sebagai kebudayaan masa yang didefinisikan sebagai kebudayaan palsu yang diberhalakan, yang tidak spontan ketimbang hal yang nyata (jay,1973)
            Ada berbagai macam alat dari industri budaya yang kemudian mereka birokrasikan, semisal hiburan (televisi, musik, olahraga dll) pendidikan, dan lain sebagainya. Namun didalam bahasan kali ini saya akan memfokuskan pada televisi sebagai pengendali kebudayaan moderen yang paling kuat, karena fenomena hari ini adalah televisi menjadi pusat nomer satu dalam penyampaian informasi apa pun.
            Hari ini sebagian produk yang dihasilkan oleh televisi adalah sekumpulan ide yang sudah terpaket dan dihasilkan secara masal lalu disampaikan kepada masa. Bila kita melihat televisi hari ini, kita akan melihat sebuah gagasan yang kuat tentang mode sebuah kebudayaan moderen. Di dalamnya tersampaikan bahwa hari ini budaya adalah seperti apa yang mereka sampaikan, sehingga masa akan terkontruksikan sama seperti yang disampaikan melalui media televisi tersebut, semisal gaya hidup para pemuda, dari mode rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan pikiran sekali pun. Yang kemudian gaya hidup yang disampaikan oleh televisi tersebut adalah gaya hidup yang dibuat oleh kelompok kapitalisme transnasional fraksi konsumeris, dimana produk produk yang mereka buat disampaikan atau disalurkan melalui acara-acara yang diproduksi oleh media televisi.
            Produk-produk yang dikemas dengan sangat rapi dan sangat menarik ini membuat masyarakat semakin terlena, masyarakat semakin masuk kedalam alam bawah sadarnya. Muatan-muatan yang disampaikan oleh televisi sebenarnya sangat menindas dan membingungkan masyarakat, dimana masyarakat akan selalu disuguhi oleh nilai-nilai yang selalu berubah, sehingga masyarakat akan terus dan terus mengikuti nilai-nilai tersebut, dan nilai tersebut terus berpola, sehingga tidak akan pernah mencapai titik jenuh, dan bahkan akan selalu naik. Bentuk seperti inilah yang saya maksut sebagai penindasan yang dilakukan oleh media televisi, karena masyarakat terus dipaksa untuk mengikuti apa yang mereka sampaikan, dan tanpa masyarakat sadari mereka terkontruksikan bahwa apa yang disampaikan televisi adalah sesuatu yang harus diikuti, dan bila tidak mengikuti maka akan muncul hukuman berupa stigma bahwa seseorang yang tidak mengikuti  mode tersebut berarti tergolong orang yang kuno, kuper, dan lain sebagainya.
            Contoh sederhana tentang nilai-nilai negativ yang disampaikan oleh media televisi adalah sinetron-sinetron remaja, yang dimana mereka membuat tema tentang kehidupan para pelajar SMA. Namun faktanya nilai-nilai yang disampaikan bukanlah apa adanya atau kewajiban seperti apa para pelajar remaja tersebut, melainkan nilai-nilai gaya hidup moderen. Mereka tidak menyampaikan nilai-nilai pendidikan, tapi mereka menyampaikan bahwa anak muda adalah golongan atau kelompok dalam masyarakat yang harus bersenang-senang dalam kehidupannya. Tanpa masyarakat sadari (utamanya para remaja), mereka akan terkontruksi bahwa seorang remaja memang seharusnya bersenang-senang dan tidak terlalu menghiraukan masalah pendidikan, dan menjadikan pendidikan hanya sebatas formalitas belaka.
            Douglas Kellner berpendapat bahwa dalam membahas tentang industri budaya, maka harus melakukan analisa yang rinci atas ekonomi politis dan media, dan tidak sebatas mengkonsepsikan kebudayaan masa hanya sebagai alat idelogi kapitalis (Kellner, 1990: 14). Oleh karena itu, selain melihat televisi sebagai bagian dari industri kebudayaan, tentunya berkaitan baik dengan kapitalisme korporasi maupun dengan sistem politis.


Meteor Rosada Amang Sanjaya