Pagi
datang dengan cepat. Serpihan-serpihan kisah semalam yang lalu begitu cepat dan
begitu indah. Ah, tempat tidur ini menghambatku, semakin meracuni otak untuk
semakin bergairah bersama pagi dan kisah semalam. Kau begitu cantik dengan
tubuh kecilmu.
Satunya
hal yang tak menarik adalah apa yang datang begitu cepat, pergi pula dengan
begitu cepat. Mengingatkan puisi Rite Of
Spring dari Goenawan Mohamad. Kau berlalu bersama angin. Menjadi satu
dengan tetes gerimis hujan. Saya mengagumimu. Jam yang bicara, menunjukan sudah
siang, waktu untuk beranjak pergi dari tempat tidur dan memaksa untuk realistis.
“Pagi
ini terbuat dari apa ?” kenapa begitu bulat dan dingin. Sama sepertimu, begitu
bulat dan dingin sekarang. “Apa yang terjadi denganmu ?”.
Wijaya
Kusuma, mekar di saat tengah malam dan hanya untuk beberapa saat, namun
keesokan paginya layu kembali. Bunga yang menurut legenda bisa menyembuhkan
segala macam penyakit, menjadikan abadi dan menghidupkan orang mati. Bunga ini
adalah bunga dewa. Asal muasal bunga ajaib itu dari benang sari bunga Wijaya
Kusuma milik dewa Wisnu di kayangan, yang jatuh dan tumbuh di dunia.
Berdasarkan
legenda yang muncul di masyarakat, pada suatu ketika, ada seorang raja dari tanah
Jawa yang bermimpi menemukan bunga Wijaya Kusuma tumbuh di sebuah pulau Karang
Badong di laut selatan.
“Aku
bermimpi! Aku tak bisa mati !” teriak raja dalam tidurnya.
“Ada
apa, Kanda? Siapa yang tak bisa mati?” tanya permaisuri yang terbangun karena
teriakan suaminya.
“Ah,
Dinda. Kita akan hidup selamanya. Aku tahu di mana tempat Kembang Wijaya Kusuma
berada,” jawab baginda yang kemudian menceritakan perihal mimpinya.
Singkat
cerita, raja mengutus beberapa prajuritnya untuk memetik bunga tersebut, meski
sebenarnya hal tersebut melanggar pantangan yang dipernah disampaikan oleh
tetua kerajaan.
Ketika
prajurit sampai di pantai laut selatan, para prajurit menciut nyalinya. Bagaimana
tidak ? Gelombang air laut itu setinggi bukit. Jangankan kapal, bukit pun pasti
hancur ditelan gelombang itu.
Disaat
ketakutan para prajurit begitu memuncak, ternyata ada seorang nelayan yang
melamun di tepi pantai. Salah satu prajurit tersebut mendatangi nelayan itu.
“Kenapa
kau melamun nelayan ? apa yang kau lamunkan”. Tanya prajurit.
“Maaf
baginda, hamba hanya melamuni nasib hamba yang begitu susah, hamba tidak
memiliki apa pun untuk hidup, hamba adalah nelayan yang kehilangan kapal”.
Jawab nelayan tersebut.
Prajurit
tersebut diam sejenak.
“Aku
akan merubah nasibmu, tidak hanya kapal, kami akan memberimu lebih banyak”. Kata
prajurit.
“Lalu
apa yang harus saya lakukan?” Nelayan itu bertanya.
“Ambilkan
kami bunga Wijaya Kusuma”. Perintah prajurit kepada nelayan tersebut.
“Oh
bunga Wijaya Kusuma yang tumbuh di pulau Karang Badong itu kah ?”. Jawab
nelayan itu. Meskipun dalam batin nelayan itu ketakutan, namun karena keinginan
untuk hidup yang lebih baik begitu besar, nelayan tersebut memberanikan
dirinya.
Ketika
sampai di pulau, nelayan tersebut segera bergegegas ke puncak tebing pulau Karang
Badong. Punga itu tepat di atas tebing. Disaat hendak memetiknya, muncul sosok-sosok
seram di sekitar bunga tersebut, mereka adalah siluman yang juga hendak memetik
bunga ajaib itu untuk menambah kesaktian dan keabadian.
Tanpa
berfikir lama, nelayan tersebut langsung memetik bunga Wijaya Kusuma dan
berlari menuju perahunya. Ketika sampai di pantai, nelayan itu mendapati
perahunya telah hancur diterjang ombak. Nelayan itu begitu ketakutan. Ketika dilihatnya
siluman yang mengejarnya semakin dekat, nelayan itu berdo’a kepada sang dewa.
“Dewa
tolonglah hambamu ini”. Teriak nelayan tersebut, dan dia langsung melompat ke
dalam laut. Dengan ombak yang begitu besar, nelayan tersebut berjuang sekuat
tenaga untuk meraih serpihan kayu bekas perahunya. Dengan kegigihan yang kuat,
nelayan tersebut berhasil meraih kayu tersebut.
Dengan
dibantu ombak, nelayan tersebut sampai di pantai. Keadaannya sungguh tidak
baik. Dia tidak sadarkan diri. Melihat keadaan tersebut, prajurit melihat
nelayan itu memegang bunga Wijaya Kusuma. Namun prajurit tersebut tidak
memenuhi janjinya. Mereka hanya mengambil bunga itu dan meninggalkan nelayan
tersebut seorang diri dengan keadaan kritis.
Ketika
bunga Wijaya Kusuma sudah ditangan raja, ternyata bukan keabadian yang dia
terima, malah keburukan menimpa kerajaan tersebut. Para prajurit yang
diperintahkan untuk memetik bunga tersebut mati satu persatu secara misterius. Dan
sang raja menjadi gila lalu hilang. Namun bunga tersebut hilang, dan kembali
kepada dewa Wisnu.
Kisah
itu begitu tragis. Betapa indahnya, dan betapa misterinya bung Wijaya Kusuma. Sama
denganmu yang begitu menawan, mempesona, tapi begitu gelap untuk dilihat dengan
perasaan pasrah dan diam. Wijaya Kusuma. Bunga Indah satu malam dengan misteri
tuhan di tanganmu.
Meteor Rosada Amang Sanjaya