Bunuh Diri Anomie Masyarakat Kontemporer : Studi
Kasus di Bali
Masyarakat Bali
mengalami pergeseran nilai dan norma sosiokultural. Pergeseran sosiokultural mengakibatkan
tatanan dan pranata sosial yang menjadi kolektivitas masyarakat Bali mengalami keguncangan.
Pengamatan masyarakat awam mengenai kasus bunuh diri akan selalu diarahkan pada
tindakan yang mengarah pada kelemahan jiwa dan tekanan psikologis. Masyarakat
Bali yang dahulunya memegang nilai dan norma yang masih konservatif telah
bergesar dengan adanya modernisasi dan westernisasi dalam berbagai macam aspek
kehidupan sosial. Identitas masyarakat modern melekat dengan kesan individualitas,
hedonisme, liberalisme, dan kapitalisme. Dengan semakin terbukanya informasi
dan teknologi yang mudah diakses mengkaburkan nilai sosiokultural yang telah
terbangun. Akal atau pun pemikiran yang telah terkonstruksi dengan nilai dan
norma sosiokultural seharusnya mampu mengendalikan rasionaliats normatif dalam
berperilaku sosial tidak dapat berjalan secara baik. Bunuh diri menjadi semakin
mungkin terjadi dikarenakan kekacauan yang negatif dalam ruang lingkup ekonomi.
Bunuh diri (Suicide) merupakan salah satu karya besar tokoh sosiologi Prancis Emile Durkheim yang
besar di zamannya. Durkheim menjelaskan hanya fakta sosial yang mempengaruhi
kuantitas bunuh diri pada beberapa kasus di lokasi yang berbeda. Pada kasus bunuh diri anomie pengaruh ekonomi
menjadi faktor yang berpengaruh besar. Angka bunuh diri anomie lebih mungkin
muncul dikarenakan sifat kekacauan yang positif (misalnya ledakan ekonomi) atau
karena sifatnya yang negatif (depresi ekonomi). Kekacauan ini mengakibatkan
seseorang berada pada nilai dan norma lama tidak berlaku lagi tetapi nilai dan
norma baru belum berkembang. Bentuk norma sosiokultural non material yang menjadi
kontrol masyarakat mengalami kegoyahan ditambah lagi dengan derajat ekonomi
yang sifatnya negatif. Semangat
masyarakat yang kolektivisme bergeser ke arah individualisme.
Krisis ekonomi
nampaknya semakin banyak menimpa orang Bali. Hal ini berhubugan dengan modernisasi
dan westernisasi yang terjadi pada masyarakat. Kebutuhan akan materi dan gaya
hidup hedonisme semakin memunculkan konstruksi masyarakat untuk hidup mewah dan
individual. Hubungan sosial masyarakat Bali yang kekerabatan menjadi lebih
egois dan berkomunikasi hanya seperlunya. Tradisi dan ritual yang meningkatkan
solidaritas menjadi semakin berkurang seperti tegur sapa dan berkunjung ke
rumah tetangga tidak lagi dilakukan. Semuanya mengacu kepada gaya hidup
masyarakat yang mementingakan kepentingan pribadi dengan menghilangkan asas
koletiktifitas yang menjadi tradisi di dalam masyarakat. Budaya-budaya seperti ngorte atau ngobrol yang menurut tradisi Bali adalah obat jiwa
tidak lagi dilakukan. Tradisi ngorte seharusnya dapat mengurangi
tekanan sosial dan dapat memberikan solusi atas permasalahan individu dalam
kehidupan bermasyarakat. Keadaan anomie masyarakat sedikit banyak berpengaruh
terhadap pola perilaku masyarakat yang normatif. Kontrol nilai dan norma
sosiokultural yang menjadi kesadaran kolektif dalam berkehidupan masyarakat
digantikan dengan nilai dan norma sosiokultural yang belum berkembang, keadaan
anomie nilai dan norma sosiokultural menjadi salah satu faktor masyarakat Bali
melakukan bunuh diri pada beberapa kasus dengan kasus yang berbeda. Bunuh diri
menjadi bentuk ancaman yang serius disamping dengan bentuk kematian yang
disebabkan tindakan kekerasan dan terorisme pada masyarakat Bali.
Salam
RETORIKA!!!
ABDUL BUKHORI MUSLIM
Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa Prof., Dr. 2010. Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi. Yogyakarta:LKiS