Minggu, 15 November 2020

Fungsi Lukisan Untuk Dekorasi Rumah



Fungsi Lukisan Untuk Dekorasi Rumah - Lukisan adalah hal yang istimewa bagi seluruh masyarakat di dunia. Namun tidak setiap orang dapat memiliki lukisan disebabkan oleh banyak hal, mulai dari harga, kemampuan membuat, selera, dan sebagainya.

Lukisan yang berada di dalam sebuah rumah menjadi teramat berarti jika dimaknai menjadi satu entitas tersendiri bagi pemiliknya. Berbanding terbalik apabila si pemilik tidak menganggap bahwa lukisan memiliki nilai, maka dia hanya akan menjadi barang tidak penting seperti barang-barang lainnya.

Apabila anda memiliki perumahan di surabaya atau perumahan di mojokerto, maka anda harus memiliki lukisan di dalam rumah anda. Hal tersebut dapat membuat kesan mewah dan elegan pada pribadi maupun rumah anda.

Lukisan adalah hal berharga non fungsional seperti emas, berlian, dan barang mewah lainnya. Namun sekaligus juga bisa menjadi barang yang sangat fungsional seperti iklan reklame, kampane tv, atau rekaman pidato. Oleh sebab itu, sebuah karya seni lukisan memiliki kompleksitas yang dalam.

Fungsi lukisan untuk dekorasi rumah anda merupakan salah satu hal terpenting dari karya seni itu. Dengan anda melakukan instalasi lukisan di dalam rumah anda maka rumah tersebut akan semakin indah dan sebagainya.

Untuk jasa instalasinya anda dapat mengandalkan seperti Ryza Concept - Jasa Interior Design Jabodetabek. Sedangkan untuk informasi seputar seni, anda dapat mengunjungi Local Project dan Ideavone untuk berita seputar teknologi.

Sabtu, 11 Juli 2020

Playing For Change – Musik dan Gerakan


Dikutip dari LOCAL PROJECT

Playing For Change adalah sebuah gerakan yang didirikan sejak tahun 2002. Dipelopori oleh sekumpulan seniman dan pekerja seni dari berbagai negara. Gerakan ini memiliki tujuan untuk menginspirasi sekaligus menyatukan masyarakat seluruh dunia menggunakan musik. Mereka percaya bahwa musik memiliki kekuatan yang besar untuk menghancurkan batas dan penindasan yang dialami oleh masyarakat di seluruh dunia.

Playing For Change bermula dari ide Mark Johnson dan Whitney Kroenke untuk menangkap kreatifitas dari musisi jalanan di seluruh Amerika. Untuk mendukung ide tersebut, mereka membangun studio rekaman berjalan dan kemudian merekam seluruh aktivitas yang dilakukan. Proyek yang diberi nama “A Cinematic Discovery of Street Music” tersebut pada akhirnya memenangkan penghargaan untuk kategori film dokumenter.

Pertemuan Mark Johnson dengan Roger Ridley

Pada tahun 2005, Mark Johnson berjalan di jalanan Santa Monica, California. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang musisi jalanan bernama Roger Ridley yang sedang menyanyikan lagu Stand By Me. Ketika itu, Mark Johnson dapat merasakan kekuatan yang luar biasa dari lagu yang dinyanyikan oleh Roger. Seketika, Mark Johnson menawarkan Roger Ridley untuk direkam menggunakan studio kelilingnya, dan Roger-pun menyetujuinya.

Ketika Mark Johnson datang kembali dengan studio kelilingnya, dia bertanya sekalilagi kepada Roger Ridley, “With a voice like yours, why are you singing on the street?” Roger menjawab, “Man, I’m in the Joy of business, I come out to be with the people.” Semenjak itu, Play For Change memutuskan berkeliling dunia untuk merekam dan memfilmkan musisi jalanan yang mereka temui, dan tentu saja pada akhirnya membangun ikatan kekeluargaan secara global.

Playing For Change telah keliling dunia untuk menciptakan musik dan mengajak musisi-musisi jalanan untuk menjadi bagian dari Playing For Change Band. Musisi-musisi ini berasal dari negara dan budaya yang berbeda-beda satusamalainnya. Dengan musik, perbedaan tersebut diterjemahkan menjadi satu Bahasa yang sama, yaitu bahasa musik.

Saat ini, lagu-lagu yang dihasilkan oleh Playing For Change dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di dunia menggunakan beragam platform seperti YouTube, Spotify, official website Playing For Change, atau platfom lainnya. Tujuan mereka untuk menginspirasi dan menyebarkan cinta kepada seluruh masyarakat di seluruh dunia telah tercapai.

Motion Graphics Surabaya

Sablon gelas plastik

Guest Post Gratis

supermarket bangunan

Tidak hanya berhenti di situ, melalui Play For Change Foundation, mereka berupaya untuk mendirikan Music and Art School untuk anak-anak di seluruh dunia. Menciptakan harapan dan inspirasi untuk masa depan masuia dan planet bumi ini.

Siapapun dapat mendukung dan berkontribusi pada gerakan ini dengan cara menjadi member. Caranya sangat sederhana, yaitu mendaftarkan diri melalui situs resmi mereka, PLAYINGFORCHANGE.ORG

LOCALPROJECT.ID - SENI INDONESIA HARI INI


Perumahan di Surabaya

Perumahan di Mojokerto


Selasa, 26 Agustus 2014

SEJARAH ???


“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? apakah kesedihan, tanpa penghianatan, sejarah tidak akan lahir?” - Soe Hok Gie.
Sejarah menurut kamus bahasa Indonesia adalah kejadian yang terjadi di masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Ditambahkan oleh Sartono Kartodirjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang terjadi pada masa lampau.    Yang secara teoritik menunjukan tindakan untuk membuka tabir atau mengarsipkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, baik satu detik, satu jam, satu hari, satu tahun, bahkan jutaan tahun yang lalu.
Satu hal yang kemudian harus kita pertanyakan dalam statemen tersebut. Benarkah ?
Bukankah kita melihat saat ini, berbagai fenomena yang saya rasa memaksa kita untuk menggelengkan kepala, menutup mata, atau berkata bangsat.
Kita disuguhkan berbagai kenangan yang indah nan cantik mengenai sejarah bangsa ini, atau kisah heroik para pahlawan yang dengan gigihnya memperjuangkan kemerdekaan. Itu adalah kebenaran, kita semua tahu itu. Tapi kembali lagi ke pertanyaan saya yang saya lontarkan di atas tadi, Benarkah ?. Pertanyaan saya yang sebenarnya meragukan mengenai kejujuran para sejarawan dalam membuka atau mengatakan sejarah di negara ini.
Beranikan para sejarawan membuka kepada masyarakat luas mengenai para penganut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibantai oleh entah siapa. Yang kita dapatkan dari para sejarawan hanyalah bahwa para penganut PKI adalah salah, tak bertuhan, penghianat, dll. Yang tidak kita lihat adalah bahwa mereka adalah bagian dari kita, mereka adalah ayah, ibu, tetangga, atau teman kita, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Tidak pernah tercatat oleh sejarah kita berapa jumlah saudara kita yang menjadi korban kejadian tersebut. Sebuah film dokumenter yang berjudul “Shadow Play” mengemukakan bahwa ada ratusan ribu warga Indonesia yang dibantai lalu jasadnya dibuang diberbagai tempat. Bukankah itu keji ? dimana keluarga atau orang terdekatnya tidak ada yang tahu dimana mereka berada, bila masih hidup, mereka dimana ? jika mereka sudah mati, dimana jasadnya ? tentu saja kejadian ini jauh lebih melankoli ketimbang film “12 years a slave” hasil karya sutradara sekaligus produser Steve McQueen.
Saya rasa bukanlah mengenai tekanan yang membatasi ilmu mereka, namun karena mereka sendiri yang tidak memiliki etika untuk berbicara jujur mengenai kenangan. Tapi apa yang mereka lakukan setidaknya sudah memberikan kita semua gambaran, bahwa sejarah hanyalah alat, media, atau senjata untuk memanipulasi kita masyarakat luas, yang mengakibatkan konstruksi negatif bagi masyarakat. Seperti dalam kejadian di paragraf atas, kita bisa melihat di dalam masyarakat saat ini, bahwa stigma yang muncul akibat manipulasi para sejarawan terhadap sejarah telah menjadikan paham komunis adalah paham mengenai iblis. Saya tidak membela atau berideologi komunis, saya hanya tidak ingin masyarakat melihat sesuatu yang tidak berdasarkan bukti lengkap.

Meteor Rosada Amang Sanjaya

Minggu, 16 Maret 2014

Bunuh Diri Anomie Masyarakat Kontemporer : Studi Kasus di Bali

Bunuh Diri Anomie Masyarakat Kontemporer : Studi Kasus di Bali

Masyarakat Bali mengalami pergeseran nilai dan norma sosiokultural. Pergeseran sosiokultural mengakibatkan tatanan dan pranata sosial yang menjadi kolektivitas masyarakat Bali mengalami keguncangan. Pengamatan masyarakat awam mengenai kasus bunuh diri akan selalu diarahkan pada tindakan yang mengarah pada kelemahan jiwa dan tekanan psikologis. Masyarakat Bali yang dahulunya memegang nilai dan norma yang masih konservatif telah bergesar dengan adanya modernisasi dan westernisasi dalam berbagai macam aspek kehidupan sosial. Identitas masyarakat modern melekat dengan kesan individualitas, hedonisme, liberalisme, dan kapitalisme. Dengan semakin terbukanya informasi dan teknologi yang mudah diakses mengkaburkan nilai sosiokultural yang telah terbangun. Akal atau pun pemikiran yang telah terkonstruksi dengan nilai dan norma sosiokultural seharusnya mampu mengendalikan rasionaliats normatif dalam berperilaku sosial tidak dapat berjalan secara baik. Bunuh diri menjadi semakin mungkin terjadi dikarenakan kekacauan yang negatif dalam ruang lingkup ekonomi.
Bunuh diri (Suicide) merupakan salah satu karya  besar tokoh sosiologi Prancis Emile Durkheim yang besar di zamannya. Durkheim menjelaskan hanya fakta sosial yang mempengaruhi kuantitas bunuh diri pada beberapa kasus di lokasi yang berbeda.  Pada kasus bunuh diri anomie pengaruh ekonomi menjadi faktor yang berpengaruh besar. Angka bunuh diri anomie lebih mungkin muncul dikarenakan sifat kekacauan yang positif (misalnya ledakan ekonomi) atau karena sifatnya yang negatif (depresi ekonomi). Kekacauan ini mengakibatkan seseorang berada pada nilai dan norma lama tidak berlaku lagi tetapi nilai dan norma baru belum berkembang. Bentuk norma sosiokultural non material yang menjadi kontrol masyarakat mengalami kegoyahan ditambah lagi dengan derajat ekonomi yang sifatnya negatif.  Semangat masyarakat yang kolektivisme bergeser ke  arah individualisme.
Krisis ekonomi nampaknya semakin banyak menimpa orang Bali. Hal ini berhubugan dengan modernisasi dan westernisasi yang terjadi pada masyarakat. Kebutuhan akan materi dan gaya hidup hedonisme semakin memunculkan konstruksi masyarakat untuk hidup mewah dan individual. Hubungan sosial masyarakat Bali yang kekerabatan menjadi lebih egois dan berkomunikasi hanya seperlunya. Tradisi dan ritual yang meningkatkan solidaritas menjadi semakin berkurang seperti tegur sapa dan berkunjung ke rumah tetangga tidak lagi dilakukan. Semuanya mengacu kepada gaya hidup masyarakat yang mementingakan kepentingan pribadi dengan menghilangkan asas koletiktifitas yang menjadi tradisi di dalam masyarakat.  Budaya-budaya seperti ngorte atau ngobrol yang menurut tradisi Bali adalah obat jiwa tidak lagi dilakukan.  Tradisi ngorte seharusnya dapat mengurangi tekanan sosial dan dapat memberikan solusi atas permasalahan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Keadaan anomie masyarakat sedikit banyak berpengaruh terhadap pola perilaku masyarakat yang normatif. Kontrol nilai dan norma sosiokultural yang menjadi kesadaran kolektif dalam berkehidupan masyarakat digantikan dengan nilai dan norma sosiokultural yang belum berkembang, keadaan anomie nilai dan norma sosiokultural menjadi salah satu faktor masyarakat Bali melakukan bunuh diri pada beberapa kasus dengan kasus yang berbeda. Bunuh diri menjadi bentuk ancaman yang serius disamping dengan bentuk kematian yang disebabkan tindakan kekerasan dan terorisme pada masyarakat Bali.

Salam RETORIKA!!!


ABDUL BUKHORI MUSLIM

Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa Prof., Dr. 2010. Ajeg  Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi. Yogyakarta:LKiS 

DRAMATURGI PEMILU 2014

DRAMATURGI PEMILU 2014

Dramaturgi, pandangan sebuah konsep mengenai kehidupan sosial sehari-hari sebagai sebuah sandiwara dramatik yang ditampilkan di atas panggung. Adalah Erving Goffman yang merupakan seorang tokoh sosiologi interaksionalisme simbolik yang melahirkan pemikiran ini. Dalam menyikapi fenomena sehari-hari, konsep dramaturgi masih relevan sebagai dasar untuk menganalisa konsep diri dalam kehidupan sehari-hari.
Menengok sejenak fenomena yang saat ini sedang berlangsung, pesta demokrasi yang dikemas dalam agenda politik yaitu Pemilu yang akan dilaksanakan 9 April 2014. Layaknya sebuah pentas pertunjukan yang akan disajikan oleh para pelaku politik kepada masyarakat, agenda pemilu menjadi sebuah pertunjukan yang diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam proses ini.
Analogi pemilu dengan konsep dramaturgi adalah suatu hal yang menjadi menarik untuk dipresentasikan. Pemilu 2014 merupakan sebuah drama kehidupan yang diperankan oleh peserta pemilu sebagai aktor sosial dan masyarakat politik sebagai audiens sosial. Menjadi tugas seorang aktor untuk dapat menampilkan dirinya sebaik mungkin melalui proses interaksi yang berlangsung kepada audiensnya. Sandiwara ini akan dapat berhasil apabila masyarakat  politik menerima dengan baik hasil presentasi peserta pemilu.
Dramaturgi terbagi ke dalam front stage (bagian depan) dan back stage (panggung belakang). Bagian depan merupakan bagian dari sandiwara yang secara umum berfungsi untuk medefinisikan situasi bagi orang-orang yang mengamati sandiwara itu. Proses pemilu seperti kampanye merupakan front stage dramaturgi. Jauh lebih lanjut font stage terbagi menjadi setting front (depan latar) dan personal (depan pribadi). Latar pemilu merupakan situasi fisik dimana proses kampanye sedang berlangsung yang manampilkan kapasitas dan kapabilitas peserta pemilu. Bagian depan pribadi meliputi penampilan dan sikap peserta pemilu. Peserta pemilu tentunya akan berusaha membuat masyarakat takjub melihat drama politik yang sedang berlangsung, menampilkan karakter seorang politikus yang handal dengan mengumbar janji dan berbagai macam harapan.
 Panggung belakang merupakan tempat dimana fakta-fakta yang ditindas dan tidak ditampilkan di bagian depan. Panggung belakang merupakan tempat perilaku-perilaku yang terahasiakan oleh peserta pemilu dihadapan masyarakat. Suatu panggung belakang akan dapat merusak penampilan peserta pemilu apabila masyarakat mengetahui fakta-fakta atau pun jejak rekam hitam peserta pemilu. Untuk dapat meyakinkan masyarakat, panggung belakang adalah tempat dimana peserta pemilu memanajemen segala macam hal yang berkaitan dengan proses pemenangan pemilu. Sebuah strategi politik yang telah tertata dengan rapi.
Setelah semua dramaturgi pemilu telah usai, hasil pertunjukan dikembalikan pada  masyarakat sebagai audiens. Suatu derajat drama pemilu dapat berjalan dengan baik apabila masyarakat turut serta peran aktif dalam proses pemilu . Tentu saja sebagai masyarakat politik, berhak memberikan pujian maupun kritik sosial kepada peserta pemilu. Perlu disadari pemilu adalah sarana politik untuk mewujudkan kehendak rakyat kepada negara dalam sistem demokrasi.

Salam RETORIKA!!!

ABDUL BUKHORI MUSLIM

Jumat, 14 Maret 2014

Pemira HIMA Sosiologi periode 2014/2015

Selamat kepada saudari Nellyana Dewi larasati yang telah resmi menjadi KAHIMA sosiologi periode 2014/2015 dengan hasil akhir : dari total suara 376, Ogi Jodi mendapat 55 suara, Nelly Dewi L 195 suara. abtsein 22 dan tidak sah 5 suara

Kamis, 13 Maret 2014

Bunga Wijaya Kusuma


Pagi datang dengan cepat. Serpihan-serpihan kisah semalam yang lalu begitu cepat dan begitu indah. Ah, tempat tidur ini menghambatku, semakin meracuni otak untuk semakin bergairah bersama pagi dan kisah semalam. Kau begitu cantik dengan tubuh kecilmu.
Satunya hal yang tak menarik adalah apa yang datang begitu cepat, pergi pula dengan begitu cepat. Mengingatkan puisi Rite Of Spring dari Goenawan Mohamad. Kau berlalu bersama angin. Menjadi satu dengan tetes gerimis hujan. Saya mengagumimu. Jam yang bicara, menunjukan sudah siang, waktu untuk beranjak pergi dari tempat tidur dan memaksa untuk realistis.
“Pagi ini terbuat dari apa ?” kenapa begitu bulat dan dingin. Sama sepertimu, begitu bulat dan dingin sekarang. “Apa yang terjadi denganmu ?”.
Wijaya Kusuma, mekar di saat tengah malam dan hanya untuk beberapa saat, namun keesokan paginya layu kembali. Bunga yang menurut legenda bisa menyembuhkan segala macam penyakit, menjadikan abadi dan menghidupkan orang mati. Bunga ini adalah bunga dewa. Asal muasal bunga ajaib itu dari benang sari bunga Wijaya Kusuma milik dewa Wisnu di kayangan, yang jatuh dan tumbuh di dunia.
Berdasarkan legenda yang muncul di masyarakat, pada suatu ketika, ada seorang raja dari tanah Jawa yang bermimpi menemukan bunga Wijaya Kusuma tumbuh di sebuah pulau Karang Badong di laut selatan.
“Aku bermimpi! Aku tak bisa mati !” teriak raja dalam tidurnya.
“Ada apa, Kanda? Siapa yang tak bisa mati?” tanya permaisuri yang terbangun karena teriakan suaminya.
“Ah, Dinda. Kita akan hidup selamanya. Aku tahu di mana tempat Kembang Wijaya Kusuma berada,” jawab baginda yang kemudian menceritakan perihal mimpinya.
Singkat cerita, raja mengutus beberapa prajuritnya untuk memetik bunga tersebut, meski sebenarnya hal tersebut melanggar pantangan yang dipernah disampaikan oleh tetua kerajaan.
Ketika prajurit sampai di pantai laut selatan, para prajurit menciut nyalinya. Bagaimana tidak ? Gelombang air laut itu setinggi bukit. Jangankan kapal, bukit pun pasti hancur ditelan gelombang itu.
Disaat ketakutan para prajurit begitu memuncak, ternyata ada seorang nelayan yang melamun di tepi pantai. Salah satu prajurit tersebut mendatangi nelayan itu.
“Kenapa kau melamun nelayan ? apa yang kau lamunkan”. Tanya prajurit.
“Maaf baginda, hamba hanya melamuni nasib hamba yang begitu susah, hamba tidak memiliki apa pun untuk hidup, hamba adalah nelayan yang kehilangan kapal”. Jawab nelayan tersebut.
Prajurit tersebut diam sejenak.
“Aku akan merubah nasibmu, tidak hanya kapal, kami akan memberimu lebih banyak”. Kata prajurit.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” Nelayan itu bertanya.
“Ambilkan kami bunga Wijaya Kusuma”. Perintah prajurit kepada nelayan tersebut.
“Oh bunga Wijaya Kusuma yang tumbuh di pulau Karang Badong itu kah ?”. Jawab nelayan itu. Meskipun dalam batin nelayan itu ketakutan, namun karena keinginan untuk hidup yang lebih baik begitu besar, nelayan tersebut memberanikan dirinya.
Ketika sampai di pulau, nelayan tersebut segera bergegegas ke puncak tebing pulau Karang Badong. Punga itu tepat di atas tebing. Disaat hendak memetiknya, muncul sosok-sosok seram di sekitar bunga tersebut, mereka adalah siluman yang juga hendak memetik bunga ajaib itu untuk menambah kesaktian dan keabadian.
Tanpa berfikir lama, nelayan tersebut langsung memetik bunga Wijaya Kusuma dan berlari menuju perahunya. Ketika sampai di pantai, nelayan itu mendapati perahunya telah hancur diterjang ombak. Nelayan itu begitu ketakutan. Ketika dilihatnya siluman yang mengejarnya semakin dekat, nelayan itu berdo’a kepada sang dewa.
“Dewa tolonglah hambamu ini”. Teriak nelayan tersebut, dan dia langsung melompat ke dalam laut. Dengan ombak yang begitu besar, nelayan tersebut berjuang sekuat tenaga untuk meraih serpihan kayu bekas perahunya. Dengan kegigihan yang kuat, nelayan tersebut berhasil meraih kayu tersebut.
Dengan dibantu ombak, nelayan tersebut sampai di pantai. Keadaannya sungguh tidak baik. Dia tidak sadarkan diri. Melihat keadaan tersebut, prajurit melihat nelayan itu memegang bunga Wijaya Kusuma. Namun prajurit tersebut tidak memenuhi janjinya. Mereka hanya mengambil bunga itu dan meninggalkan nelayan tersebut seorang diri dengan keadaan kritis.
Ketika bunga Wijaya Kusuma sudah ditangan raja, ternyata bukan keabadian yang dia terima, malah keburukan menimpa kerajaan tersebut. Para prajurit yang diperintahkan untuk memetik bunga tersebut mati satu persatu secara misterius. Dan sang raja menjadi gila lalu hilang. Namun bunga tersebut hilang, dan kembali kepada dewa Wisnu.

Kisah itu begitu tragis. Betapa indahnya, dan betapa misterinya bung Wijaya Kusuma. Sama denganmu yang begitu menawan, mempesona, tapi begitu gelap untuk dilihat dengan perasaan pasrah dan diam. Wijaya Kusuma. Bunga Indah satu malam dengan misteri tuhan di tanganmu.

Meteor Rosada Amang Sanjaya

Senin, 24 Februari 2014

INDUSTRI BUDAYA; TELEVISI; BUDAYA PALSU


Indusrti budaya adalah institusi-institusi dalam masyarakat yang mengelola moda khusus produk dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komodikasi (Garnham, 1997). Sedangkan menurut Fiske industri budaya memproduksi repetoir barang-barang atau jasa dengan harapan menarik publik dan menyertakan publik sebagai konsumen komoditas tersebut (Storey, 2007: 32).
            Para teoritisi kritis seperti Douglas Kellner dan Lewis mengkritik keras kepada apa yang mereka sebut sebagai industri budaya. Menurut mereka industri budaya adalah struktur-struktur yang dirasionalkan, dibirokrasikan, yang kemudian mengendalikan kebudayaan moderen. Industri budaya menghasilkan apa yang disebut sebagai kebudayaan masa yang didefinisikan sebagai kebudayaan palsu yang diberhalakan, yang tidak spontan ketimbang hal yang nyata (jay,1973)
            Ada berbagai macam alat dari industri budaya yang kemudian mereka birokrasikan, semisal hiburan (televisi, musik, olahraga dll) pendidikan, dan lain sebagainya. Namun didalam bahasan kali ini saya akan memfokuskan pada televisi sebagai pengendali kebudayaan moderen yang paling kuat, karena fenomena hari ini adalah televisi menjadi pusat nomer satu dalam penyampaian informasi apa pun.
            Hari ini sebagian produk yang dihasilkan oleh televisi adalah sekumpulan ide yang sudah terpaket dan dihasilkan secara masal lalu disampaikan kepada masa. Bila kita melihat televisi hari ini, kita akan melihat sebuah gagasan yang kuat tentang mode sebuah kebudayaan moderen. Di dalamnya tersampaikan bahwa hari ini budaya adalah seperti apa yang mereka sampaikan, sehingga masa akan terkontruksikan sama seperti yang disampaikan melalui media televisi tersebut, semisal gaya hidup para pemuda, dari mode rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan pikiran sekali pun. Yang kemudian gaya hidup yang disampaikan oleh televisi tersebut adalah gaya hidup yang dibuat oleh kelompok kapitalisme transnasional fraksi konsumeris, dimana produk produk yang mereka buat disampaikan atau disalurkan melalui acara-acara yang diproduksi oleh media televisi.
            Produk-produk yang dikemas dengan sangat rapi dan sangat menarik ini membuat masyarakat semakin terlena, masyarakat semakin masuk kedalam alam bawah sadarnya. Muatan-muatan yang disampaikan oleh televisi sebenarnya sangat menindas dan membingungkan masyarakat, dimana masyarakat akan selalu disuguhi oleh nilai-nilai yang selalu berubah, sehingga masyarakat akan terus dan terus mengikuti nilai-nilai tersebut, dan nilai tersebut terus berpola, sehingga tidak akan pernah mencapai titik jenuh, dan bahkan akan selalu naik. Bentuk seperti inilah yang saya maksut sebagai penindasan yang dilakukan oleh media televisi, karena masyarakat terus dipaksa untuk mengikuti apa yang mereka sampaikan, dan tanpa masyarakat sadari mereka terkontruksikan bahwa apa yang disampaikan televisi adalah sesuatu yang harus diikuti, dan bila tidak mengikuti maka akan muncul hukuman berupa stigma bahwa seseorang yang tidak mengikuti  mode tersebut berarti tergolong orang yang kuno, kuper, dan lain sebagainya.
            Contoh sederhana tentang nilai-nilai negativ yang disampaikan oleh media televisi adalah sinetron-sinetron remaja, yang dimana mereka membuat tema tentang kehidupan para pelajar SMA. Namun faktanya nilai-nilai yang disampaikan bukanlah apa adanya atau kewajiban seperti apa para pelajar remaja tersebut, melainkan nilai-nilai gaya hidup moderen. Mereka tidak menyampaikan nilai-nilai pendidikan, tapi mereka menyampaikan bahwa anak muda adalah golongan atau kelompok dalam masyarakat yang harus bersenang-senang dalam kehidupannya. Tanpa masyarakat sadari (utamanya para remaja), mereka akan terkontruksi bahwa seorang remaja memang seharusnya bersenang-senang dan tidak terlalu menghiraukan masalah pendidikan, dan menjadikan pendidikan hanya sebatas formalitas belaka.
            Douglas Kellner berpendapat bahwa dalam membahas tentang industri budaya, maka harus melakukan analisa yang rinci atas ekonomi politis dan media, dan tidak sebatas mengkonsepsikan kebudayaan masa hanya sebagai alat idelogi kapitalis (Kellner, 1990: 14). Oleh karena itu, selain melihat televisi sebagai bagian dari industri kebudayaan, tentunya berkaitan baik dengan kapitalisme korporasi maupun dengan sistem politis.


Meteor Rosada Amang Sanjaya